Perjalanan Wisata Kawah Ijen di Libur Nyepi

Berangkat Mulus, Pulang Penuh Stempel Biru

EKSOTIK: Turis asing dan wisatawan lokal berjalan di salah satu sisi kawah Ijen.
EKSOTIK: Turis asing dan wisatawan lokal berjalan di salah satu sisi kawah Ijen.
Kawah Ijen masih menjadi salah satu jujugan turis selama libur Nyepi tahun ini. Namun sayang, potensi besar itu masih kurang didukung dengan sarana jalan yang memadai. Gunung Ijen adalah sebuah gunung berapi aktif di belahan timur Provinsi Jawa Timur. Sebagian kawasan tersebut masuk wilayah Kabupaten Bondowoso. Namun, sebagian kalangan mengklaim bahwa sebagian kawasan tersebut masuk wilayah Kabupaten Banyuwangi.
Namun, status wilayah itu bukanlah hal penting bagi para pelancong. Turis lokal maupun wisatawan asing kurang begitu memperhatikan problem semacam itu. Mereka lebih fokus menikmati indahnya panorama gunung yang berketinggian 2.443 meter dari permukaan laut tersebut.
Bagi turis asing, gunung Ijen memang kurang familiar. Nama Ijen crater (kawah Ijen) lebih dikenal di Prancis, Inggris, Belanda, Jerman, dan beberapa negara Eropa lainnya. Ijen crater juga dikenal di Jepang, Korea, dan Amerika.
Gunung yang telah empat kali meletus (1796, 1817, 1913, dan 1936) itu memang sering dikunjungi turis asing. Untuk menuju Ijen, ada juga yang berangkat dari Bondowoso. Rute yang ditempuh adalah Bondowoso-Wonosari-Tapen-Sempol-Paltuding.
Namun, banyak juga turis asing yang berangkat dari Banyuwangi. Dari pusat Kota Gandrung, mereka bisa memilih dua rute alternatif. Yang pertama adalah rute Banyuwangi-Banjarsari-Kalibendo-Jambu-Paltuding. Untuk rute kedua adalah Banyuwangi-Banjarsari-Glagah-Licin-Jambu-Paltuding.
Banyak turis asing yang terkesan dengan perjalanan dari Jambu menuju Paltuding. Sebab, mereka melintasi perkebunan dan hutan hujan tropis sepanjang beberapa kilometer. Selain itu, jalannya sempit dan berkelok-kelok dengan tanjakan yang cukup menantang. ’’Saya suka pemandangan di sini. Banyak tanaman sejenis pakis yang berukuran luar biasa besarnya di hutan ini. Rasanya, seperti tanaman purba di zaman Dinosaurus,’’ jelas Elbert ’Justin’ Wouda, 40, seorang turis asal Belanda yang pelesir ke Ijen saat libur Nyepi kemarin.
Namun, Elbert merasakan pemerintah setempat kurang peduli dengan kondisi jalan di hutan tersebut. Banyak jalan rusak berat dibiarkan tanpa perawatan. Bahkan, motor yang dikendarainya sempat jatuh terguling di tanjakan menjelang tikungan Ereg-Ereg.
Ternyata, tidak hanya motor turis Belanda itu yang terjatuh di jalan tersebut. Beberapa wisatawan lokal juga banyak yang mengalami nasib serupa. ‘’Motor yang kami naiki merosot di jalan hutan itu. Ini lihat, kaki dan tangan saya penuh memar. Berangkatnya mulus, kini banyak lebam mirip seperti bekas stempel biru,’’ jelas Ryna Lestyana, 33, seorang accounting pada perusahaan travel di Kuta, Bali, yang menghabiskan liburan Nyepi di Gunung Ijen.
Masih di lokasi yang sama, beberapa motor warga Bumi Blambangan juga jatuh terpelanting di jalan tersebut, seperti yang dialami Febrianto, 17, seorang siswa SMAN 1 Banyuwangi. Beruntung, dia dan keponakannya yang masih duduk di kelas lima SD itu tidak mengalami luka serius.
Beberapa menit sebelumnya, motor yang ditumpangi pasutri asal Muncar juga terjatuh di tempat tersebut. Saat libur Nyepi, pekerja pabrik ikan dan ibu guru SD itu sengaja berwisata ke Ijen bersama putri mereka yang sekolah di SMAN 1 Giri, Banyuwangi. Saat melintas di tanjakan, motornya merosot dan jatuh. Sebab, aspal jalan tersebut sudah mengelupas. ’’Saya terpaksa jalan kaki. Saya dan anak saya sudah empat kali turun dari motor. Kami takut jatuh lagi,’’ ujar guru SD tersebut.
Sebelum itu, pasutri warga Kecamatan Glagah juga mengalami nasib yang sama. Motor Yamaha Vixion yang mereka tumpangi terpeleset dan terjatuh di tempat tersebut. ’’Kami harap pemerintah segera memperbaiki jalan ini, karena ini aset yang berharga untuk pariwisata Banyuwangi,’’ ujar C. Heriyanto, 29, warga Desa Glagah tersebut.
Sementara itu, perjuangan berat melintasi jalan rusak itu akhirnya bisa terobati setelah mereka mencapai puncak kawah Ijen. Dari Paltuding, pengunjung berjalan kaki sejauh sekitar 3,5 kilometer. Sebagian besar lintasan jalan kaki itu memiliki kemiringan 25-35 derajat.
Begitu masuk ke Pos Bunder (pos unik karena memiliki bangunan bentuk setengah lingkaran), jalur selanjutnya relatif agak landai. Wisatawan akan disuguhi panorama pemandangan deretan pegunungan yang sangat indah. Banyak istilah yang dilontarkan untuk menggambarkan betapa bagusnya panorama kawah tersebut. Ada yang menyebutnya ”luar biasa, amazing, great” dan sederet ungkapan pujian lainnya. Ya, memang semua keindahan itu cukup setimpal dengan lelahnya perjuangan menempuh perjalanan menuju puncak. (bay)
FOTO: BAYU SAKSONO/Radar Banyuwangi

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: