Perjalanan Melihat Persiapan Desa Wisata Mangrove di Bloksolo (2-habis)

Mesin Mogok, Perahu Nyaris Tenggelam Dihantam Ombak

TRANSPORTASI: Beberapa perahu parkir di pesisir tepi hutan Mangrove di Bloksolo, Purwoharjo, Banyuwangi.
TRANSPORTASI: Beberapa perahu parkir di pesisir tepi hutan Mangrove di Bloksolo, Purwoharjo, Banyuwangi.
Mempersiapkan Desa Wisata Mangrove ternyata tidak semudah yang dibayangkan. Para guide (pemandu wisata) tidak hanya diwajibkan menguasai Bahasa Inggris. Mereka juga harus siap lahir batin menghadapi situasi genting dimainkan ombak besar. Siang itu, Dewi Fortuna rupanya tidak berpihak kepada rombongan kami. Meski semuanya sudah siap di atas gethek, namun mesin tidak bisa berbunyi hingga 30 menit. Sebagian penumpang sempat panik. Ada juga yang sudah pasrah dan berdoa. Okto mencoba mengambil inisiatif membuat tebak-tebakan, sekadar untuk menghilangkan kepanikan. Sedangkan Pak Usman yang jadi nakhoda perahu, tampak bekerja keras berusaha menghidupkan mesin.
Sayangnya, mesin perahu tidak bisa hidup. Malah, mesin tersebut mengeluarkan asap dan percikan api. Kami pun berusaha untuk tidak panik. Setelah didiamkan selama beberapa saat, mesin dicoba untuk dihidupkan kembali. Akhirnya mesin gethek bisa hidup.
Kami semua spontan bertepuk tangan. Saya pun bisa tersenyum kembali dan langsung mengucapkan syukur.
Perahu berputar haluan, dan melanjutkan perjalanan kembali. Selama perjalanan, selain menikmati pemandangan mangrove, kami juga melihat burung Elang laut perut putih (Haliaeetus Leucogaster). Burung itu tampak santai terbang berputar-putar di atas rombongan kami.
Tidak hanya itu, kami juga menyaksikan para nelayan mencari kerang dengan peralatan yang sederhana. Mereka melambaikan tangan, ketika perahu kami melewati mereka. Ombak pun semakin besar, perahu yang kita naiki nyaris terhempas ombak. Tangan kami saling berpegangan. Karena memang tidak ada yang menggunakan pelampung dan tidak semuanya bisa berenang.
Sri, salah satu pemandu wisata langsung menangis histeris. Raut wajahnya langsung memerah. Air matanya langsung berlinang di pipi. ‘’Saya tidak mau lagi,’’ katanya sambil menutup wajah.
Setelah semuanya normal, perahu berlabuh seperti biasanya. Dan akhirnya, kami pun sampai di pantai wisata Bedul. Setibanya di sana, kami berjalan kaki untuk sampai di desa wisata. Air pasang setinggi lutut orang dewasa, kita pun berjalan dengan sangat hati-hati. Akhirnya, kita kembali ke Dusun Bloksolo, Desa Sumberasri.
Shofa, seorang pengangguran yang lulus menjadi pemandu wisata mengaku, selama terpilih dan mengikuti training, dia mendapatkan banyak pengalaman. Sebelumnya, dia belum mengerti apa itu mangrove. Kini, dirinya bisa menguasai tentang pohon bakau dengan berpedoman buku panduan. ’’Saya bersyukur bisa lulus menjadi pemandu,’’ kata lelaki alumnus MAN 1 Jember ini.
Eny, seorang guru SDN di Desa Sumberasri mengatakan, dirinya memiliki segudang pengalaman baru. Dia bisa menambah pengalaman mengenai mangrove. ’’Kalau bukan kita-kita, siapa lagi yang akan melestarikan tanaman mangrove ini,’’ ujar lulusan D2 Universitas Negeri Jember ini.
Staf JICA, Oktovina mengatakan, program sub sektoral itu membangun lima lokasi yang disebut model pengelolaan mangrove. Selama ini, Indonesia memiliki kawasan mangrove yang sangat luas dan bagus. Namun, banyak hutan bakau yang tidak dikelola dengan baik.
Beberapa pusat bakau misalnya di Kendari (Sulawesi), Alas Purwo (Jawa ), Banjar (Kalimantan), Lampung (Sumatera) dan Bipolo (Nusa Tenggara Timur). Di setiap kawasan mangove itu memiliki kekhasan pembangunan desa wisatanya.
Oktovina menambahkan, JICA kini sedang menyiapkan sumber daya manusia (SDM) saja. Apabila desa wisata mangrove sudah siap, pemandunya juga sudah siap. Tugas kami di sini adalah  membangun SDM, dengan mengajarkan berbagai hal seperti pelatihan pelatihan wisata mangrove, Bahasa Inggris, dan bagaimana menjadi pemandu. ’’Karena selama ini, mereka masih belum berpengalaman. Target kami untuk menyiapkan SDM selama enam bulan,’’ pungkasnya.
Sementara itu, Kepala Desa (Kades) Sumberasri, Suyatno mengatakan, berbagai persiapan telah dilakukan untuk desa wisata mangrove ini. Masalah anggaran termasuk yang paling penting. Anggaran untuk jalan desa disiapkan sebesar Rp 1,2 miliar. Ada juga anggaran untuk kolam pancing dan lainnya sebesar Rp 500 juta. ‘’Saat ini masih proses persiapan saja. Kami masih konsentrasi di pengembangan SDM untuk menjadi pemandu,’’ pungkasnya. (habis)

FOTO: ALDILA AVRIKARTIKA/Radar Banyuwangi

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: